Podchaser Logo
Episode from the podcastJas Merah 2020

Episode 04 - Mukodimah Perempuan-perempuan Tangguh

Released Monday, 3rd August 2020
Good episode? Give it some love!
Perempuan-perempuan tangguh penguasa tanah Jawa
Muncul asumsi bahwa perempuan merupakan makhluk lemah dan sangat tergantung dengan kaum pria. Benarkah demikian? Jawabnya, tidak. Mengingat banyak perempuan tangguh dilahirkan di bumi. Mereka tidak menyandang predikat perempuan, namun wanita yang dalam pemahaman orang Jawa, wani ditata (berani diatur) dan sekaligus wani nata (berani mengatur) sebagaimana kaum pria. Bukan sekadar berperan turut mengatur rumah tangga, namun juga mengatur negara sebagai seorang ratu. Termaktub dalam sejarah di tanah Jawa, beberapa wanita yang menduduki jabatan sebagai ratu, antara lain: Ratu lay Shima (Kalingga), Pramodhawardhani (Medang periode Jawa Tengah dari Dinasti Sailendra terakhir), Sri Isana Tunggawijaya (Medang Periode Jawa Timur kedua), Tribhuwana Wijayatunggadewi (Majapahit ketiga), dan Sri Suhita (Majapahit keenam). Selain itu, muncul bupati ]epara sebelum era pemerintahan Arya Penangsang di Demak dan semasa pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, yaitu Ratu Kalinyamat. Berkaitan wanita sebagai ratu, tidak hanya ada di Jawa, namun juga di Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan, dan Sulawesi, semisal Sultanah Nahrasiyah (Samudera Pasai); Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam, Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam, Sri Ratu Zaqiatuddin lnayat Syah, dan Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (Aceh Darussalam); Mahisa Suramardini Warmandewi dan Sphatikarnawa Warmandewi (Salakanagara); Nyi Mas Ratu Patuakan dan Nyi Mas Ratu Inten Dewata (Sumedanglarang); Maharatu Mayang Mulawarni (Kutai Martapura); Tumanurung (Gowa); Sultana Zainab Zulkiyahtuddin, l-Danraja Siti Nafisah Karaeng Langelo, We Maniratu Arung Data, dan Sri Sultana Fatima (Bone); serta Ratu Wa Kaa Kaa dan Ratu Bulawambona (Buton). Selain para ratu dari Jawa dan luar Jawa, banyak perempuan perkasa yang berpredikat sebagai permaisuri, pahlawan, pemikir, politikus, menteri, dan lain-lain, antara lain Nyi Ageng Serang (Mataram), Nyi Ontosoroh, Cut Nyak Dhien (Aceh), Cut Nyak Meutea (Aceh), dan Martha Christina Tiahahu (Maluku). Oleh karena itu, dengan hadirnya konten ini diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi setiap pendengar. Selain menggugah inspirasi dan spirit dalam penyetaraan gender, konten ini akan mampu menguak misteri di balik kelembutan sikap dan tutur kata wanita Jawa khususnya, dan Nusantara pada umumnya, di mana sebelah mata.

---

This episode is sponsored by
· Anchor: The easiest way to make a podcast. https://anchor.fm/app

Support this podcast: https://anchor.fm/abu-mumtaz/support
Rate Episode
Do you host or manage this podcast?
Claim and edit this page to your liking.